Abstrak / Ringkasan
Bahasa adalah persoalan yang sangat vital dalam suatu kebudayaan. Minangkabau sebagai sebuah suku yang setia dengan tradisi oralnya, memiliki dinamika bahasa yang sangat unik. Melalui pepatah-petitih para pendahulu, sindiran dan kiasan mengambil tempat sebagai pusat model kebudayaan Minangkabau. Akan tetapi, ketidakmengertian sebagian besar anak suku Minangkabau tentang makna sindir-kias, menjadikan standar moral tidak lagi sama. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menemukan satu konsepsi yang bisa membumikan kembali sindir-kias dalam kehidupan orang Minangkabau secara khusus, dan orang Indonesia secara umum. Penelitian ini menemukan bahwa dalam budaya kebahasaan Minangkabau, terdapat kemampuan adaptif dan sekaligus reflektif dalam mengembangkan sindiran dan kiasan. Ini membuktikan bahwa adat Minangkabau sangat terbuka dalam pengembangan kebahasaannya, akan tetapi pada saat yang sama mampu merefleksikan dan menginternalisasikannya hingga menjadi khas Minangkabau. Intersubjektivitas nilai dalam hal ini mengambil peran yang sangat penting. Oleh karena itu, nilai kemapanan yang dimiliki oleh tradisi kebahasaan Minangkabau adalah nilai adaptif-reflektif sehingga menjamin munculnya dinamika kebahasaan, yang tentu saja mengarahkan model kebudayaan Minangkabau. Kata kunci: aksiologi, bahasa, Minangkabau, sindir-kias.